membaca judul diatas memang rada aneh rasanya..
Ya,,,,bagaimana mungkin patah hati kok jadi semangat!
Em,,,,,sebelumnya saya tanya sama pembaca blog ini, siapa yang pernah patah hati?
pasti anda semua pernah mengalminya.......
atau mungkin ada yang belum pernah mengalami patah hati....
Nah bagi anda yang belum pernah patah hati musti hati-hati, dan harus siap apabila suwatu saat mengalaminya
Berikut ini kutipan yang saya baca dari WIKIPEDIA
Patah hati adalah suatu metafora umum yang digunakan untuk menjelaskan sakit emosional
atau penderitaan mendalam yang dirasakan seseorang setelah kehilangan orang yang dicintai,
melalui kematian, perceraian, putus hubungan, terpisah secara fisik atau penolakan cinta.
Patah hati biasanya dikaitkan dengan kehilangan seorang anggota keluarga atau pasangan
hidup , meski kehilangan orang tua, anak, hewan peliharaan, orang yang dicintai atau teman
dekat bisa "mematahkan hati seseorang", dan sering dialami ketika sedih dan merasa
kehilangan. Frasa ini mengarah pada sakit fisik yang dirasakan seseorang di dada sebagai
dampak kehilangan tersebut, tetapi ada pula perpanjangannya yang meliputi trauma emosional
ketika perasaan tersebut tidak dialami sebagai wujud sakit somatik. Meskipun "patah hati"
biasanya tidak memberi kerusakan fisik apapun pada jantung, ada sebuah kondisi bernama
"sindrom patah hati" atau kardiomiopati Takotsubo, yaitu ketika sebuah insiden traumatik
mendorong otak untuk menyalurkan zat-zat kimia ke jaringan jantung yang melemah.
Pandangan filosofis
Bagi banyak orang, mengalami patah hati adalah sesuatu yang mungkin tidak diketahui
sebelumnya, karena dibutuhkan waktu bagi suatu kehilangan emosional atau fisik untuk
diketahui sepenuhnya. Seperti yang dikatakan Jeffrey Moussaieff Masson:
Manusia tidak selalu sadar dengan apa yang mereka rasakan. Seperti hewan, mereka tidak
mampu mengungkapkan perasaan mereka dalam bentuk kata-kata. Hal ini bukan berarti bahwa
mereka tidak punya perasaan. Sigmund Freud pernah berspekulasi bahwa seorang pria bisa
jatuh cinta dengan seorang wanita selama enam tahun dan tidak menyadarinya sampai
beberapa tahun kemudian. Pria seperti itu, dengan semua kebaikannya di dunia, tidak bisa
mengungkapkan apa yang ia tidak ketahui. Ia memiliki perasaan tersebut, namun ia tidak
mengetahuinya. Ini mungkin terdengar seperti paradoks — paradoksikal karena ketika kita
memikirkan suatu perasaan, kita memikirkan sesuatu yang kita sadari sedang dirasakan.
Sebagaimana Freud maksudkan dalam artikelnya tahun 1915, The Unconscious: "Tentu saja
kita perlu menyadari esensi sebuah emosi. Namun kita tidak mengetahui bahwa kita bisa
'memiliki' perasaan yang tidak kita ketahui."
[2]
Sindrom patah hati
Dalam berbagai legenda dan cerita fiksi, tokoh utama meninggal setelah mengalami kehilangan
yang luar biasa. Namun bahkan dalam dunia nyata, seseorang bisa meninggal akibat patah hati.
Sindrom patah hati umumnya dianggap sebagai akibat kematian seseorang yang pasangan
hidupnya sudah duluan meninggal, namun penyebabnya tidak selalu jelas. Kondisi ini bisa
dipicu oleh tekanan emosional mendadak akibat putus hubungan traumatik atau kematian
orang yang dicintai. [3] Sindrom patah hati secara klinis berbeda dengan serangan jantung,
karena pasien memiliki sedikit faktor risiko yang mendorong penyakit jantung dan sebelumnya
sehat sebelum pelemahan otot-otot jantung. Tingkat kesembuhan para penderita "sindrom
patah hati" lebih cepat daripada penderita serangan jantung dan kesembuhan penuh pada
jantung bisa tercapai dalam waktu dua minggu. [4]
Pemahaman psikologis dan neurologis
Sebuah studi memperlihatkan bahwa patah hati terasa menyakitkan sebagaimana sakit fisik
yang mendalam. Penelitian tersebut mendemonstrasikan bahwa daerah otak yang sama yang
cepat tanggap dengan pengalaman menyakitkan teraktifkan ketika seseorang mengalami
penolakan sosial, atau kehilangan sosial pada umumnya. "Hasil ini memberikan arti baru
bahwa penolakan sosial memang 'menyakitkan'," kata psikolog sosial Universitas Michigan,
Ethan Kross. [5][6] Penelitian Michigan melibatkan korteks somatosensori sekunder dan insula
posterior dorsal.
Psikolog dan penulis Dorothy Rowe menceritakan kembali tentang apa yang ia pikirkan
mengenai patah hati sebagai sebuah klise kosong sampai ia mengalaminya sendiri ketika
dewasa. [7][8] Patah hati kadang bisa mendorong seseorang mencari bantuan medis untuk
mengetahui gejala fisiknya, dan kemudian dikaitkan dengan kelainan somatoform. [9]
Proses neurologis yang terlibat dalam persepsi sakit hati belum diketahui, namun diduga
melibatkan korteks singulat anterior otak, yang dapat berstimulasi secara berlebihan ke saraf
vagus ketika terjadi tekanan sehingga menyebabkan sakit, mual, atau pengencangan otot di
bagian dada. [10]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar